Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Homeschooling à la Carte
Site Meter My BlogCatalog BlogRank

Blog EntryOct 28, '09 5:30 AM
for everyone
Sabtu lalu tanpa terencana, saya menghadiri talk show seorang penulis remaja berjilbab, yang diadakan di Expo Perpustakaan dan Penerbit di Senayan, Jakarta.

Saya datang di tengah-tengah acara, yang diadakan di bawah tenda dengan kursi-kursi lipat yang disediakan untuk hadirin. Ibu saya yang menggendong si bayi Nao sedang menumpang dudukdi deretan kursi terbelakang. Mereka berada di sana untuk menunggu kedatangan saya, Masa, dan Kanae yang berkeliling dalam bangunan diadakannya pameran.

Rupanya sedang sesi tanya jawab. Di depan, duduk seorang bapak yang 'memberikan kuliah' tentang bagaimana keluarganya membesarkan penulis berusia 13 tahun tersebut. Rupanya ayah anak itu. Di sebelah kiri duduk MC wanita berbusana you-can-see yang lincah mengarahkan dialog. Di kanan duduk gadis berjilbab hijau yang menurut banner promosi di sisinya bernama Putri Salsa. Bukunya berjudul 'Cool Skool'. Sekolah keren?

Ibu saya memberi tahu saya,"Kalau nanya dapat hadiah buku lho, Din."

"Asyik, nanya ah," jawab saya. 
Nanya doang dapet buku. Mau dong. Nanya apa ya...
Oh gini aja, tanya bagaimana peran sekolah dengan keberhasilan dia sebagai penulis cilik.

Eh, baru mikir begitu, seorang ibu-ibu berjilbab yang mendapat giliran tepat sebelum saya, ternyata menanyakan hal yang sama.

Kata ibu itu,"Bagaimana guru-guru di sekolah Chacha (nama panggilan penulis cilik itu) mendukung karier sebagai penulis? Sebab saya kebetulan seorang guru, dan saya ingin sekali menjadi seperti guru Chacha itu."

Chacha si penulis menjawab,"Kayaknya aku belum pernah ketemu sama guru seperti itu." 

Oo-ouw... Curhatlah dia tentang guru-guru sekolahnya yang cuek-cuek saja dengan prestasinya yang telah menerbitkan buku sejak usia 7 tahun dan memenangkan berbagai kejuaraan kepenulisan.

Ayah Chacha pun menimpali, bahwa sekolah tidak ambil pusing dengan bakat putrinya itu. Untuk mengembangkan minat dan bakatnya menulis, ayahnya dan ibunya yang keduanya penulis harus berusaha sendiri semaksimal mungkin tanpa menggantungkan diri pada sekolah. Malahan ayahnya menyesalkan sikap sekolah yang seperti menghalang-halangi agar Chacha dan anak-anak berbakat lainnya supaya jangan sampai libur sekolah padahal mereka ingin absen dulu karena ada kegiatan mengembangkan karier di luar kota, misalnya. Padahal seharusnya anak-anak berbakat seperti itu dibantu, bukan dipersulit.

Ayahnya juga merasa kasihan pada putrinya yang cukup punya nama di dunia penulisan, disanjung-sanjung di dunia luar, tetapi di sekolah malah di-bully oleh teman-temannya yang iri. Teman-teman sekolah yang iri tersebut merasa hebat jika bisa menginjak-injak 'bintang', istilah ayah Chacha.   

Saya langsung bertepuk-tepuk tangan seperti simpanse di belakang ibu guru yang bertanya itu. Tuh kan, sosialisasi di sekolah ya begitu itu. Sosialisasi yang rendah kualitasnya. (Hidup homeschooling!)

Giliran saya bertanya. Kurang bermutu lantaran sudah kecolongan duluan. Saya bertanya, bagaimana kedua orang tua memberikan dorongan ketika naskah tulisan Chacha ditolak oleh penerbit.  

Jawabannya adalah: satu kali pun belum pernah ditolak oleh penerbit.

Glodhak. Langsung berhasil gitu ya. Nasib saya, ibu-ibu beranak tiga yang ingin jadi penulis namun tidak berbakat seperti dia.

Mbak MC melakukan follow-up dengan mengatakan, tulisan Chacha sudah melalui proses editing ayah dan ibunya yang penulis jadi ya pasti diterbitkan, dong. 
Oooo...

Pertanyaan terakhir yang menarik, datang dari seorang mantan guru berjilbab. Katanya datang jauh-jauh dari Subang (di mana itu?).
"Saya sebagai mantan guru sangat menyayangkan sikap guru-guru Chacha di sekolah. Kenapa kok punya murid berbakat malah dibiarkan saja seolah-olah tidak tahu. Kalau boleh tahu bagaimana prestasi Chacha di sekolah? Selain itu, Chacha sekolahnya di mana?"

Ternyata jawaban Chacha, aku nggak ngefans untuk belajar sekaligus menulis buku.
Eufemisme untuk pernyataan: nilai sekolahku jelek-jelek sampai biasa-biasa saja.

Oh... kalau begitu pantas saja guru-gurumu tidak perduli terhadap prestasimu yang luar biasa itu, Chacha. Nilai ujianmu biasa-biasa saja sih. Kamu dianggap tidak istimewa oleh sekolahmu.

Ayahnya kemudian bercerita bahwa di dalam keluarganya yang penting bukan rapor, yang penting berkarya. Dia punya teman-teman yang di sekolahnya pintar tetapi setelah lulus hanya jadi pegawai, jadi orang biasa, dengan gaji biasa. Sedangkan penulis, mendapatkan royalti berkali-kali dan bisa jalan-jalan ke luar negeri seperti ibunya Chacha yang sedang keliling Eropa. 

Terakhir ayahnya itu ketelapasan ngomong, menyebutkan nama sekolah *******. Sekolah super elit, super mahal itu loh! Yang anak-anak teman kami sesama alumni Jepang juga menjadi siswa-siswi di sana! Ternyata sekolah semahal itu masih juga tidak memberikan perhatian individu, seperti halnya sekolah murahan. 

(Di-google saja, nama sekolah itu selalu muncul berdampingan dengan nama Putri Salsa, jadi yach... bukan rahasia lagi sebenarnya. Saya buat tanda bintang daripada kena kasus pencemaran nama baik.)

Ayahnya cepat-cepat memperhalus pernyataannya, menurut dia di sekolah anaknya itu ada teman-temannya yang autis, jadi mungkin wajar dia dianggap mampu belajar sendiri sehingga tidak mendapatkan perhatian khusus dari guru-gurunya. Kenyataan bahwa ayah dan anak itu berani membicarakan sekolahnya sedemikian rupa, artinya tidak satu pun guru dari sekolah itu yang hadir di sana. Kasihan.

Talk show itu diakhiri dengan penjualan buku dan acara minta tanda tangan.

Baru setelah googling di rumah, saya ketahui gadis remaja itu anak penulis Asma Nadia. ###


20 CommentsChronological   Reverse   Threaded
lovusa wrote on Oct 28, '09
Caca dan Adam, dua anaknya mbak Asma yang sering banget masuk dalam tulisan2nya mbak Asma.

ttg sekolah? grrrr...ternyata begitu ya. positif homeschooling :D
andinirizky wrote on Oct 28, '09
Oh gitu ya Mbak Gita, terima kasih sharing info-nya. ^^
abangmei wrote on Oct 28, '09
subang di jawa barat mba andini (kadang suka lewat subang kalo mau ke bandung dari jakarta)

salut deh ama mba andini yang telaten banget memperjuangkan homeschooling (emang harus gitu yaaa..). mudah-mudahan "bos" di rumah terbuka mata dan hatinya jadi lancar deh homescholling kanae-chan

melia
bundaicha wrote on Oct 28, '09
saya ketahui gadis remaja itu anak penulis Asma Nadia
wah hebat ya kecil2 sudah jadi penulis, hebat seperti mamanya..:)
wietski wrote on Oct 28, '09
saya pernah main kerumah mba asma, dan ketemu caca, kalo ga salah masih umur 4-5 tahun deh, si adam aja masih digendong2 (belum ada setahun). Saya ingat, karena waktu ketemu caca, dia sudah pake kacamata dan sedang membaca buku harry potter (!!!!), tapi bodohnya, yang saya tanyakan adalah "lho, kok dirumah mba? ga sekolah?"

Mba asma (kalau tidak salah ingat) menjawab, "caca belum mau sekolah, kemarin sempat dicoba tapi bosan"

sayangnya, waktu itu saya belum tahu sama sekali tentang homeschooling (selain belum menikah, wacana homeschooling baru kukenal setelah atala berumur 18bulan), dan sempat ikutan menyayangkan kok belum sekolah ya umur segitu, padahal pinter banget...

kalo inget sekarang, umur caca waktu itu sama dengan atala sekarang....
dewimarthaindria wrote on Oct 28, '09
Ini Cacanya mbak Asma ya...
hhmmm..... saya pikir sekolah zaman sekarang sudah mulai bisa memfasilitasi secara optimal kreativitas anak & prestasi anak.. Ternyata tidak ya.. Bahkan untuk org seperti Caca saja masih diacuhkan begitu oleh sekolahnya hanya karna prestasi pelajaran skolahnya tdk semenonjol prestasi kepenulisannya..
andinirizky wrote on Oct 28, '09
Terima kasih telah membuatkan ringkasannya.
andinirizky wrote on Oct 28, '09
Oo... teman Mbak Wiwiet ya. Habis ini saya dilaporin dong. Terinspirasi gak sih kenal sama selebriti?

Sama, saya juga ketika belum tau homeschooling, berpikir semakin cepat sekolah, semakin baik untuk anak itu. Baru sekarang saya berpikir dampak negatif 'pendidikan masal' terhadap perkembangan karakter anak jauh lebih mengerikan daripada manfaatnya.

Kalau pun sekolah (terpaksa misalnya, seperti anak saya), orang tua harus aktif mengintervensi, mendidik ulang, mengoreksi ajaran guru yang salah, mengembalikan kepercayaan dirinya karena anak sekolah biasanya merasa dirinya bodoh meskipun misalnya dia ranking 1. Istilahnya, afterschooling itu sudah jadi kewajiban orang tua terhadap anak.
andinirizky wrote on Oct 28, '09
Ada juga orang-orang hebat yang anaknya malah tidak hebat.
Orang-orang yang menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan anak-anak mereka kepada sekolah.
Beruntung Caca, orang tuanya tidak seperti itu.
andinirizky wrote on Oct 28, '09
Oh Melia. Id dan fotonya menyesatkan.
Terima kasih. Oh di situ ya, sudah saatnya beli peta nih.
Memperjuangkan... (padahal sebenarnya cuma nulis di blog doang)
Salah satu karakter ortu HS adalah punya idealisme sampai tingkat tertentu, kali ya.
Kalau mau ikut arus saja, gak mungkin pilih HS.
wietski wrote on Oct 28, '09
hi3, tepatnya teman abangku. Ga kenal2 bgt kok mba andini.
dianrachma wrote on Oct 28, '09
alhamdulillah kenalAndini, jadi tahu hs, makasih ya.
andinirizky wrote on Oct 28, '09
Alhamdulillah, kegeeran sendiri deh dibilangin begitu sama Mbak Dian. Saya ikutan Mbak Dian, kalau mau merintis Aspirasi cabang Cikarang nanti.
andinirizky wrote on Oct 28, '09
Ya, kalo gak kenal-kenal banget, usaha dikenal-kenalin banget doong...
Apa coba.
andinirizky wrote on Oct 28, '09
Mbak Dian, kok Mas Ismet gak pernah nulis tentang HS? Padahal saya kan ngefan tulisan2 beliau dulu di PMIJ dan KAMMI Jepang. Blog MP-nya kok kayaknya jarang diisi ya?
bunsyke wrote on Oct 29, '09
jd tambah semangat hs nih...:)
dianrachma wrote on Oct 30, '09
Suami lebih senang nulis yang lain.
Iya sekarang lebih senang ber-fb ria.

Yang jelas dukung HS.
ardanti wrote on Nov 2, '09
Mba Asma aktif logh di MP ;)
andinirizky wrote on Nov 3, '09
Cihuy... semangat semangat...!
andinirizky wrote on Nov 3, '09
Ha ha iya ya ^^
Add a Comment