
Sabtu lalu tanpa terencana, saya menghadiri talk show seorang penulis remaja berjilbab, yang diadakan di Expo Perpustakaan dan Penerbit di Senayan, Jakarta.
Saya datang di tengah-tengah acara, yang diadakan di bawah tenda dengan kursi-kursi lipat yang disediakan untuk hadirin. Ibu saya yang menggendong si bayi Nao sedang menumpang dudukdi deretan kursi terbelakang. Mereka berada di sana untuk menunggu kedatangan saya, Masa, dan Kanae yang berkeliling dalam bangunan diadakannya pameran.
Rupanya sedang sesi tanya jawab. Di depan, duduk seorang bapak yang 'memberikan kuliah' tentang bagaimana keluarganya membesarkan penulis berusia 13 tahun tersebut. Rupanya ayah anak itu. Di sebelah kiri duduk MC wanita berbusana you-can-see yang lincah mengarahkan dialog. Di kanan duduk gadis berjilbab hijau yang menurut banner promosi di sisinya bernama Putri Salsa. Bukunya berjudul 'Cool Skool'. Sekolah keren?
Ibu saya memberi tahu saya,"Kalau nanya dapat hadiah buku lho, Din."
"Asyik, nanya ah," jawab saya.
Nanya doang dapet buku. Mau dong. Nanya apa ya...
Oh gini aja, tanya bagaimana peran sekolah dengan keberhasilan dia sebagai penulis cilik.
Eh, baru mikir begitu, seorang ibu-ibu berjilbab yang mendapat giliran tepat sebelum saya, ternyata menanyakan hal yang sama.
Kata ibu itu,"Bagaimana guru-guru di sekolah Chacha (nama panggilan penulis cilik itu) mendukung karier sebagai penulis? Sebab saya kebetulan seorang guru, dan saya ingin sekali menjadi seperti guru Chacha itu."
Chacha si penulis menjawab,"Kayaknya aku belum pernah ketemu sama guru seperti itu."
Oo-ouw... Curhatlah dia tentang guru-guru sekolahnya yang cuek-cuek saja dengan prestasinya yang telah menerbitkan buku sejak usia 7 tahun dan memenangkan berbagai kejuaraan kepenulisan.
Ayah Chacha pun menimpali, bahwa sekolah tidak ambil pusing dengan bakat putrinya itu. Untuk mengembangkan minat dan bakatnya menulis, ayahnya dan ibunya yang keduanya penulis harus berusaha sendiri semaksimal mungkin tanpa menggantungkan diri pada sekolah. Malahan ayahnya menyesalkan sikap sekolah yang seperti menghalang-halangi agar Chacha dan anak-anak berbakat lainnya supaya jangan sampai libur sekolah padahal mereka ingin absen dulu karena ada kegiatan mengembangkan karier di luar kota, misalnya. Padahal seharusnya anak-anak berbakat seperti itu dibantu, bukan dipersulit.
Ayahnya juga merasa kasihan pada putrinya yang cukup punya nama di dunia penulisan, disanjung-sanjung di dunia luar, tetapi di sekolah malah di-bully oleh teman-temannya yang iri. Teman-teman sekolah yang iri tersebut merasa hebat jika bisa menginjak-injak 'bintang', istilah ayah Chacha.
Saya langsung bertepuk-tepuk tangan seperti simpanse di belakang ibu guru yang bertanya itu. Tuh kan, sosialisasi di sekolah ya begitu itu. Sosialisasi yang rendah kualitasnya. (Hidup homeschooling!)
Giliran saya bertanya. Kurang bermutu lantaran sudah kecolongan duluan. Saya bertanya, bagaimana kedua orang tua memberikan dorongan ketika naskah tulisan Chacha ditolak oleh penerbit.
Jawabannya adalah: satu kali pun belum pernah ditolak oleh penerbit.
Glodhak. Langsung berhasil gitu ya. Nasib saya, ibu-ibu beranak tiga yang ingin jadi penulis namun tidak berbakat seperti dia.
Mbak MC melakukan follow-up dengan mengatakan, tulisan Chacha sudah melalui proses editing ayah dan ibunya yang penulis jadi ya pasti diterbitkan, dong.
Oooo...
Pertanyaan terakhir yang menarik, datang dari seorang mantan guru berjilbab. Katanya datang jauh-jauh dari Subang (di mana itu?).
"Saya sebagai mantan guru sangat menyayangkan sikap guru-guru Chacha di sekolah. Kenapa kok punya murid berbakat malah dibiarkan saja seolah-olah tidak tahu. Kalau boleh tahu bagaimana prestasi Chacha di sekolah? Selain itu, Chacha sekolahnya di mana?"
Ternyata jawaban Chacha, aku nggak ngefans untuk belajar sekaligus menulis buku.
Eufemisme untuk pernyataan: nilai sekolahku jelek-jelek sampai biasa-biasa saja.
Oh... kalau begitu pantas saja guru-gurumu tidak perduli terhadap prestasimu yang luar biasa itu, Chacha. Nilai ujianmu biasa-biasa saja sih. Kamu dianggap tidak istimewa oleh sekolahmu.
Ayahnya kemudian bercerita bahwa di dalam keluarganya yang penting bukan rapor, yang penting berkarya. Dia punya teman-teman yang di sekolahnya pintar tetapi setelah lulus hanya jadi pegawai, jadi orang biasa, dengan gaji biasa. Sedangkan penulis, mendapatkan royalti berkali-kali dan bisa jalan-jalan ke luar negeri seperti ibunya Chacha yang sedang keliling Eropa.
Terakhir ayahnya itu ketelapasan ngomong, menyebutkan nama sekolah *******. Sekolah super elit, super mahal itu loh! Yang anak-anak teman kami sesama alumni Jepang juga menjadi siswa-siswi di sana! Ternyata sekolah semahal itu masih juga tidak memberikan perhatian individu, seperti halnya sekolah murahan.
(Di-google saja, nama sekolah itu selalu muncul berdampingan dengan nama Putri Salsa, jadi yach... bukan rahasia lagi sebenarnya. Saya buat tanda bintang daripada kena kasus pencemaran nama baik.)
Ayahnya cepat-cepat memperhalus pernyataannya, menurut dia di sekolah anaknya itu ada teman-temannya yang autis, jadi mungkin wajar dia dianggap mampu belajar sendiri sehingga tidak mendapatkan perhatian khusus dari guru-gurunya. Kenyataan bahwa ayah dan anak itu berani membicarakan sekolahnya sedemikian rupa, artinya tidak satu pun guru dari sekolah itu yang hadir di sana. Kasihan.
Talk show itu diakhiri dengan penjualan buku dan acara minta tanda tangan.
Baru setelah googling di rumah, saya ketahui gadis remaja itu anak penulis Asma Nadia. ###